Minggu, 28 April 2013

INTEGRASI GIZI-KIA-IMUNISASI

perlukah INTEGRASI GIZI-KIA-IMUNISASI

Kasus :

Temuan kasus : Rabu, 24 April 2013

Ibu           : HI (-20 thn)
Ayah        : UT
Bayi         : HT (anak pertama)
Lahir        : 28 Pebruari 2013
Alamat    : Desa HO, Kecamatan A Kabupaten GU Provinsi G

Kunjungan ibu sewaktu hamil :
I.             Umur kehamilan 7 bln (ke PKM)
II.           Umur kehamilan 8 bulan (ke Posyandu)
III.          Umur kehamilan 9 bulan (ke Posyandu)

Kunjungan Bayi :
Tgl. 20 April 2013 pertama kali dibawa ke Posyandu 


Masalah :
Bayi lahir di rumah ditolong oleh dukun
Umur 1 bulan 2 minggu sudah diberi bubur tepung

Belum pernah diimunisasi 

Fenomena kasus :
Hal menarik dari kasus di atas adalah ibu tersebut sewaktu hamil 3 (tiga) kali berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan yakni sejak umur kehamilan 7 bulan sampai dengan umur kehamilan 9 (sembilan) bulan. Namun saat melahirkan, dia hanya melahirkan di rumah dan bahkan hanya di tolong oleh dukun (mungkin dan semoga dukun terlatih). Setelah bayi berumur 1 bulan 2 minggu bayi tersebut telah diberikan makanan yakni bubur tepung, dan hingga saat ditemukan, bayi tersebut belum diimunisasi dan bahkan mungkin belum pernah tersentuh oleh tangan petugas kesehatan. 

Program Pemerintah :
1.   Program 1000 hari pertama periode emas janin.
2.   Program imunisasi 
3.   Jaminan kesehatan yang dilayangkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, seperti halnya jaminan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS), jaminan pertolongan persalainan (JAMPERSAL) jaminan kesehatan semesta (JAMKESTA), jaminan kesehatan daerah (JAMKESDA).
4.   Program rekruitmen dan penempatan tenaga kesehatan (bidan) sampai pada tingkat desa.

Perilaku Masyarakat :
Menurut Bloom (Notoatmodjo, 2007) perilaku sesorang terdiri dari 3 bagian, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Dalam perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yakni pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan praktek atau tindakan (practice).
Kajian Analisis :
1.   Mencermati fenomena kasus yang terjadi, bahwa upaya kesehatan masyarakat (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) belum terlaksana secara efektif dan bahkan masih belum tersentuh dan bahkan terdengar oleh seluruh kalangan masyarakat.
2.   Masyarakat belum memahami dengan jelas apa sebenarnya upaya kesehatan tersebut, karena mungkin bahasanya sangat ilmiah. Kalau dulu kita pernah mendengar tentang lebih baik mencegah daripada mengobati, mungkin inilah yang lebih pas ditelinga masyarakat.
3.   Program-program yang dicanangkan atau dilayangkan (dilayangkan artinya layang-layangnya dilepas kemudian talinya ditarik ulur oleh sang pemain), mungkin masih sebatas program yang patut diketahui oleh pengambil dan pelaksana kebijakan, mulai dari pusat, daerah (provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa sampai pada tingkat dusun/lingkungan).
4.   Siapa yang salah (mungkin kita tidak bisa menyalahkan)
Prolog : kata orang di atas (pusat) : bahwa program sudah kita layangkan ke provinsi sehingga mereka yang bertanggung jawab, kata orang level berikutnya (provinsi) : programnya sudah kita sosialisasikan ke tingkat kabupaten/kota, maka merekalah yang bertanggung-jawab, kata orang dilevel ketiga (kab/kota) : program ini sudah kita canangkan sampai ke level kecamatan, sehingga merekalah yang bertanggung-jawab, kata orang di level keempat (kecamatan) : program ini sudah berjalan dengan baik, masyarakatlah yang tidak mau tahu, masyarakat tidak sadar, maka yang disalahkan adalah masyarakat yang tidak mau dan tidak tahu.

Ketidaktahuan masyarakat, akibat dari informasi tersebut mungkin belum sampai kepada mereka, sehingga mereka tidak bisa bersikap dan bahkanpun bertindak, apa sebenarnya yang akan dilakukan pada saat hamil, pada saat melahirkan, pada saat anak lahir, pada saat anak berumur 0-6 bulan, pada saat anak berumur 6-11 bulan, pada saat anak berumur 11-24 bulan, dan bahkan sampai pada umur 5 tahun.
5.   Program JAMKES (jaminan kesehatan), masih lebih besar berada pada penanganan orang sakit, yang terlupakan dan belum tersentuh adalah orang sehat yang bisa saja sakit kalau tidak mencegah atau tidak tahu cara mencegahnya. Apabila ada kasus kesakitan dan bahkan kematian, maka disitulah anggaran terkucur sampai habis, dan bahkan menyedot anggaran pembangunan lainnya baik pembangunan fisik maupun sumber daya manusia. Karena biaya untuk orang sakit jauh bahkan jauh lebih besar dari pada membiayai bagi orang sehat, hampir 1000 kali lipat.
6.   Tenaga kesehatan (dokter, bidan, dll) yang direkrut dan ditempatkan di desa-desa malah mungkin hanya akan menjadi permasalahan baru, dimana dokter/bidan PTT gajinya hampir dua kali dari gaji dokter/bidan PNS, akan terjadi saling menyerahkan tugas, menyerahkan tanggung jawab. Banyak PTT yang ditempatkan di desa, namun sejak ibu hamil pertama sampai melahirkan dan bahkan hingga anak umur 1 tahun, PTT-nya tidak kelihatan.

Apa yang harus dilakukan :
1.   Penguatan kelembagaan, yang paling utama adalah pada level paling bawah (kelurahan/desa).
2.   Penguatan tenaga, dimulai dari peningkatan kompetensi petugas sebagai pelayan masyarakat, finansial yang mereka terima dan bahkan tidak adanya kesenjangan antara petugas kesehatan.
3.   Intinya mungkin penguatan promosi dan pencegahan (promotif dan preventif) lebih banyak dilakukan, tanpa mengabaikan pengobatan dan rehabilitasi (kuratif dan rehabilitatif). Masyarakat ingin tahu, tapi informasi belum sampai bahkan yang diterima hanya bahasa-bahasa ilimiah yang mereka tidak memahaminya.
4.   Tidak perlu meningkatkan anggaran, tetapi bagaimana agar anggaran tersebut tepat sasaran, tepat pemberian, tepat penempatan, sehingga dampaknya akan terasa dan bahkan terwujud masyarakat yang sehat, mandiri dan berkeadilan.

Akhirnya  :
"Empat” hal menghapus agama kalian :
1. Kalian tidak mengamalkan apa yang kalian ketahui.
2. Kalian mengamalkan apa yang tidak kalian ketahui.
3. Kalian tidak mau mempelajari apa yang tidak kalian ketahui, maka selamanya kalian bodoh.
4. Kalian mencegah orang lain untuk mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.
(Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailany)










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar